Saturday, June 29, 2013

Apakah kerugian Negara dihitung dari harga kontrak dengan harga beli dari penyedia


Suatu pengadaan yang seharusnya lelang kemudian dilakukan dengan penunjukan langsung, apakah ini hal pidana ? Hal demikian adalah kesalahan administrasi saja.
Apakah hal tersebut akan dinilai sebagai  tindakan pidana korupsi.
Sepanjang harga kontrak/spek/volume dilakukan sesuai dengan harga pasar maka hal tersebut bukan termasuk tindak pidana korupsi, hanya kesalahan administrasi.
Bagaimana  bila ada kesengajaan adanya mark up harga (menaikkan nilai dari harga pasar), maka hal tersebut agar diteliti, apakah harga yang diperoleh ada mark up.  Bila ada mark up maka hal tersebut adalah tindakan pidana korupsi.
Jadi menghitung kerugian Negara adalah harga kontrak dikurangi dengan harga pasar + overhead + toleransi harga, dikurangi harga diskon.

HK – ( Harga pasar + overhead + toleransi harga – diskon )  = kerugian Negara

HK = harga kontrak
Harga pasar  = harga pasar sebenarnya yang terjadi di  pasar pada saat pengadaan, termasuk kemungkian biaya kirim dan biaya pasang
Overhead = biaya-biaya yang timbul sehubungan pelelangan seperti dalam pembuatan jaminan, perjalanan mengurus kontrak/pekerjaan/penagihan dsb
Toleransi Harga = Variasi harga yang terjadi di pasar (terendah tertinggi), adanya kemungkinan harga tidak tunggal dan fluktuasi harga. Pendekatan toleransi harga dapat digunakan naik turunnya harga komoditas tersebut di data BPS
Diskon = potongan harga untuk jumlah pengadaan yang banyak.

 Apakah metode penghitungan kerugian keuangan negara dapat dibakukan atau distandardisasi?
Rumusan yang disampaikan adalah yang biasa terjadi, dalam beberapa hal tergantung kompleksitas permasalahan, misal dapat terjadi telah dilakukan penyetoran ke kas negara/daerah sebelum menjadi masalah hukum.

Adalah tidak tepat menghitung kerugian Negara dari  harga kontrak dengan harga beli  penyedia dari pemasoknya.
Contoh :
Kontrak Rp. 500 juta, kemudian penyedia ditanya beli berapa untuk dapat barang itu,  kemudian dijawab belinya Rp. 300 juta.  Lalu dihitung kerugian Negara Rp. 500- 300 = 200 juta

Penyedia bisa memperoleh harga Rp. 300 juta banyak sebab, antara lain :
1.  Telah langganan dengan pemasoknya
2.  Menggunakan harga yang lama
3.   Pemasok ingin stoknya habis
4.  Pemasok ingin barangnya menguasai pasar
5.   Memelihara jaringan distribusi
6. kepandaian penyedia  menemukan harga pasokan yang murah

No comments:

Post a Comment